Sebungkus Nasi untuk Bengkulu
Dwi
Hari Andayani , itulah nama yang diberikan oleh kedua orang tua saya saat
tanggal 12 Maret 1995 Di Rumah Sakit Rungkit Sulawesi Utara. Nama yang sangat
Indonesia dalam penyebutan maupun penulisannya tidak ada kesulitan yang dirasa.
Dan hingga saat ini nama itu tetap melekat dan dengan sapaan “Yani” ya
begitulah sapaan akrab keseharian saya. Untuk jenjang pendidikan, saat ini saya
masih tercatat sebagai Mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Bengkulu.
Untuk tempat berdomisili keluarga saya saat ini menetap dikabupaten paling
selatan di Provinsi Bengkulu yaitu Kabupaten Kaur.
Pernah
hidup berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lainnya membuat saya melihat
beberapa ciri khas dari masing-masing daerah yang pernah saya tinggali, baik
dari bahasa, adat, maupun struktur sosial masyarakat yang ada didalamnya.
Ketika berbicara masyarakat maka berbagai masalah yang ada dalam masyarakat
juga turut muncul seperti pengangguran, kemiskinan hingga kesenjangan sosial
yang terjadi.
Alfian, Melly G. Tan dan Selo Sumarjan
(1980:5) mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan kemiskinan struktural adalah
kemiskinan yang diderita oleh suatu golongan masyarakat karena struktur sosial
masyarakat itu tidak dapat ikut menggunakan sumber-sumber pendapatan yang
sebenarnya tersedia bagi mereka sedangkan kesenjangan sosial, kesenjangan
sosial diartikan sebagai kesenjangan (ketimpangan) atau ketidaksamaan akses
untuk mendapatkan atau memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Pernahkah kamu
melihat pengemis yang ada dijalanan ataupun pemulung yang mengais sampah demi
dapat menyambung hidup mereka di hari itu ? ataupun anak kecil yang masih usia
sekolah sibuk mengais rezeki di lampu merah ? Bersaing dengan debu jalanan dan
asap kendaraan, melangkah diantara hiruk pikuk kendaraan mulai dari kendaraan
roda dua hingga kendaraan roda empat yang tak sedikit enggan membuka kaca
mobilnya. Begitulah segelintir potret yang dominan terjadi di jalanan.
Lantas
apa yang kamu pikirkan ketika melihat hal tersebut ? mungkinkah kamu menganggap
itu merupakan hal yang lumrah terjadi ?. Sebenarnya tidak ada satu orangpun yang
menginginkan hidupnya susah dalam artian tidak memiliki tempat tinggal yang
layak, tidak mengenyam pendidikan yang sesuai dengan keinginan ataupun sekedar
mendapat sesuap nasi dengan lauk yang pantas yang dapat mengenyangkan perut
mereka.
Jika
hidupmu lebih beruntung maka bersyukurlah , saat kamu berkendara dan melihat
realita yang tergambar jelas di depan matamu maka perhatikan gurat wajah mereka
yang berusaha untuk penghidupan hari ini dan esok “entah bagaimana”. Mungkin
selama ini kita hanya sibuk dengan hal-hal yang berkaitan dengan diri kita ,
berbagai kesibukkan yang menyetir kita seolah membuat kita mengabaikan gambaran
hidup yang berbeda yang terpampang jelas dihadapan kita. Ketika kamu bercanda
ria mengobrol asyik dengan temanmu di atas motor yang saat itu kamu dan temanmu
itu baru saja pulang dari tempat karaoke dan singgah untuk sekedar minum es teh
manis tapi dengan budget yang bisa mendapatkan satu bungkus nasi, lalu apakah
kamu tetap mengabaikan , adik kecil dengan suara “cemprengnya” bersenandung
yang berdiri tepat dihadapan mu saat lampu merah ?
Dalam
tulisan ini saya hanya ingin berusaha mengetuk kesadaran dan rasa empati kalian
tentang hal yang selama ini terkesan kita acuhkan, padahal semua itu terjadi
tidak jauh dari sekitar kita dan dapat dengan mudah teramati. Menurut Hoffman
(2000) empati adalah keterlibatan proses psikologis yang membuat seseorang
memiliki feelings yang lebih kongruen
dengan situasi diri sendiri. Dapat diartikan bahwa empati merupakan proses
psikologis yang memungkinkan individu untuk memahami maksud orang lain,
memprediksi perilaku mereka dan mengalami emosi yang dipicu oleh emosi mereka,
individu seolah-olah masuk dalam diri orang lain sehingga memahami situasi dan
kondisi emosional dari sudut pandang orang lain.
Memberikan
sebungkus nasi memang tidak serta merta merubah hidup dan penghidupan mereka ,
namun dengan sebungkus nasi kita bisa menyampaikan rasa empati kita kepada sesama.
Bangsa kita memang tidak jauh dari urusan “perut”, dimana masih banyak saudara
kita yang memakan makanan yang tidak layak untuk dikonsumsi, sedangkan kita
dengan tanpa pikir panjang menghamburkan begitu banyak uang hanya untuk sekedar
makan di tempat yang bergengsi. Langkah sederhana dalam memberi sebungkus
nasi,merupakan sebuah stimulus sederhana ,dimana untuk menyadarkan kita bahwa
ada hak orang lain yang seharusnya turut kita berikan dalam rezeki kita.
Ketika
kita dengan tulus memberi maka kita akan mengetahui apa yang seharusnya milik
kita dan apa yang bukan. Berbagi nasi merupakan sebuah gerakan sosial yang sederhana
dalam membagikan nasi bungkus kepada yang membutuhkan, kenapa harus sebungkus
nasi ?,ya begitulah pertanyaan yang muncul dalam mengomentari gerakan ini. Nasi
dan lauk-pauknya merupakan kebutuhan pokok bagi setiap orang, kembali lagi
ketujuan utama bahwa semangat untuk berbagilah yang diharapkan disini, ketika
rasa nyaman dan bahagia kita dalam
berbagi, maka akan ada kemungkinan bahwa kita akan menciptakan “berbagi”
lainnya yang bermanfaat untuk sesama. Satu kebahagiaan yang pernah saya rasakan
ketika saya dan teman-teman saya memberikan sebungkus nasi untuk seorang kakek
yang berprofesi sebagai pemulung dan pencari barang bekas disekitaran pasar
Panorama Kota Bengkulu, kakek itu memang berusia sudah sangat senja saat kami
memberikan sebungkus nasi kepada kakek itu ada kebahagiaan yang tampak
dikerutan wajahnya, dengan ucapan “terima kasih ya nak” beliau merespon
pemberian kami.
Ada
kepuasan batin tersendiri yang dirasa ketika kita melihat betapa bahagianya
seseorang dengan pemberian kita, berbagi memang tidak kenal batasan usia, tidak
mengenal suku,ras dan agama, tidak pula terbatas pada kemampuan ekonomi kita,
mulailah dari hal sederhana yang bisa kita lakukan selagi itu bisa memberikan
manfaat bagi orang lain disitulah kita telah memulai semangat berbagi. Ketika
kamu berbagi kamu akan merasa bahwa kamu berarti bagi orang lain, bahwa kamu
menggunakan panca indra kamu untuk peka dan ingin turut merasa apa yang orang
lain rasakan. Kita memang bisa berwacana dari A sampai Z, kita juga bisa
mengkritik dari segala sisi ,namun apa arti itu semua jika tidak diikuti dengan
tindakan nyata.
Bersyukur,
peduli dan empati point itulah yang menjadi tujuan dalam gerakan berbagi nasi
ini,pada hakekatnya manusia terlahir sebagai makhluk sosial dan saling
membutuhkan serta berakal untuk membuat sesuatu yang bermanfaat dan mengarah
pada perubahan. Berbagi memang tidak mengenal usia baik tua maupun muda, apalagi
kamu para pemuda yang mempunyai semangat dan energi yang lebih untuk berbagi
kepada sesama, dan pastinya sayang sekali jika kamu sia-siakan. Gunakanlah masa
muda mu dengan berbagai aksi yang positif agar di masa tuamu kelak kamu akan
mempunyai cerita untuk anak cucumu bahwa ketika masa mudamu digunakan untuk
hal-hal yang bermanfaat. Dan pada akhirnya dari sini diharapkan akan muncul
semangat-semangat baru yang diwujudkan dalam bentuk berbagi lainya karena
sejatinya sebaik-sebaiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi sesama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar