Jumat, 18 Maret 2016

Inspirasi untuk Bengkulu



 Sebungkus Nasi untuk Bengkulu
Dwi Hari Andayani , itulah nama yang diberikan oleh kedua orang tua saya saat tanggal 12 Maret 1995 Di Rumah Sakit Rungkit Sulawesi Utara. Nama yang sangat Indonesia dalam penyebutan maupun penulisannya tidak ada kesulitan yang dirasa. Dan hingga saat ini nama itu tetap melekat dan dengan sapaan “Yani” ya begitulah sapaan akrab keseharian saya. Untuk jenjang pendidikan, saat ini saya masih tercatat sebagai Mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Bengkulu. Untuk tempat berdomisili keluarga saya saat ini menetap dikabupaten paling selatan di Provinsi Bengkulu yaitu Kabupaten Kaur.
Pernah hidup berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lainnya membuat saya melihat beberapa ciri khas dari masing-masing daerah yang pernah saya tinggali, baik dari bahasa, adat, maupun struktur sosial masyarakat yang ada didalamnya. Ketika berbicara masyarakat maka berbagai masalah yang ada dalam masyarakat juga turut muncul seperti pengangguran, kemiskinan hingga kesenjangan sosial yang terjadi.
 Alfian, Melly G. Tan dan Selo Sumarjan (1980:5) mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang diderita oleh suatu golongan masyarakat karena struktur sosial masyarakat itu tidak dapat ikut menggunakan sumber-sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia bagi mereka sedangkan kesenjangan sosial, kesenjangan sosial diartikan sebagai kesenjangan (ketimpangan) atau ketidaksamaan akses untuk mendapatkan atau memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Pernahkah kamu melihat pengemis yang ada dijalanan ataupun pemulung yang mengais sampah demi dapat menyambung hidup mereka di hari itu ? ataupun anak kecil yang masih usia sekolah sibuk mengais rezeki di lampu merah ? Bersaing dengan debu jalanan dan asap kendaraan, melangkah diantara hiruk pikuk kendaraan mulai dari kendaraan roda dua hingga kendaraan roda empat yang tak sedikit enggan membuka kaca mobilnya. Begitulah segelintir potret yang dominan terjadi di jalanan.
Lantas apa yang kamu pikirkan ketika melihat hal tersebut ? mungkinkah kamu menganggap itu merupakan hal yang lumrah terjadi ?. Sebenarnya tidak ada satu orangpun yang menginginkan hidupnya susah dalam artian tidak memiliki tempat tinggal yang layak, tidak mengenyam pendidikan yang sesuai dengan keinginan ataupun sekedar mendapat sesuap nasi dengan lauk yang pantas yang dapat mengenyangkan perut mereka.
Jika hidupmu lebih beruntung maka bersyukurlah , saat kamu berkendara dan melihat realita yang tergambar jelas di depan matamu maka perhatikan gurat wajah mereka yang berusaha untuk penghidupan hari ini dan esok “entah bagaimana”. Mungkin selama ini kita hanya sibuk dengan hal-hal yang berkaitan dengan diri kita , berbagai kesibukkan yang menyetir kita seolah membuat kita mengabaikan gambaran hidup yang berbeda yang terpampang jelas dihadapan kita. Ketika kamu bercanda ria mengobrol asyik dengan temanmu di atas motor yang saat itu kamu dan temanmu itu baru saja pulang dari tempat karaoke dan singgah untuk sekedar minum es teh manis tapi dengan budget yang bisa mendapatkan satu bungkus nasi, lalu apakah kamu tetap mengabaikan , adik kecil dengan suara “cemprengnya” bersenandung yang berdiri tepat dihadapan mu saat lampu merah ?
Dalam tulisan ini saya hanya ingin berusaha mengetuk kesadaran dan rasa empati kalian tentang hal yang selama ini terkesan kita acuhkan, padahal semua itu terjadi tidak jauh dari sekitar kita dan dapat dengan mudah teramati. Menurut Hoffman (2000) empati adalah keterlibatan proses psikologis yang membuat seseorang memiliki feelings yang lebih kongruen dengan situasi diri sendiri. Dapat diartikan bahwa empati merupakan proses psikologis yang memungkinkan individu untuk memahami maksud orang lain, memprediksi perilaku mereka dan mengalami emosi yang dipicu oleh emosi mereka, individu seolah-olah masuk dalam diri orang lain sehingga memahami situasi dan kondisi emosional dari sudut pandang orang lain.
Memberikan sebungkus nasi memang tidak serta merta merubah hidup dan penghidupan mereka , namun dengan sebungkus nasi kita bisa menyampaikan rasa empati kita kepada sesama. Bangsa kita memang tidak jauh dari urusan “perut”, dimana masih banyak saudara kita yang memakan makanan yang tidak layak untuk dikonsumsi, sedangkan kita dengan tanpa pikir panjang menghamburkan begitu banyak uang hanya untuk sekedar makan di tempat yang bergengsi. Langkah sederhana dalam memberi sebungkus nasi,merupakan sebuah stimulus sederhana ,dimana untuk menyadarkan kita bahwa ada hak orang lain yang seharusnya turut kita berikan dalam rezeki kita.
Ketika kita dengan tulus memberi maka kita akan mengetahui apa yang seharusnya milik kita dan apa yang bukan. Berbagi nasi merupakan sebuah gerakan sosial yang sederhana dalam membagikan nasi bungkus kepada yang membutuhkan, kenapa harus sebungkus nasi ?,ya begitulah pertanyaan yang muncul dalam mengomentari gerakan ini. Nasi dan lauk-pauknya merupakan kebutuhan pokok bagi setiap orang, kembali lagi ketujuan utama bahwa semangat untuk berbagilah yang diharapkan disini, ketika rasa nyaman dan bahagia  kita dalam berbagi, maka akan ada kemungkinan bahwa kita akan menciptakan “berbagi” lainnya yang bermanfaat untuk sesama. Satu kebahagiaan yang pernah saya rasakan ketika saya dan teman-teman saya memberikan sebungkus nasi untuk seorang kakek yang berprofesi sebagai pemulung dan pencari barang bekas disekitaran pasar Panorama Kota Bengkulu, kakek itu memang berusia sudah sangat senja saat kami memberikan sebungkus nasi kepada kakek itu ada kebahagiaan yang tampak dikerutan wajahnya, dengan ucapan “terima kasih ya nak” beliau merespon pemberian kami.
Ada kepuasan batin tersendiri yang dirasa ketika kita melihat betapa bahagianya seseorang dengan pemberian kita, berbagi memang tidak kenal batasan usia, tidak mengenal suku,ras dan agama, tidak pula terbatas pada kemampuan ekonomi kita, mulailah dari hal sederhana yang bisa kita lakukan selagi itu bisa memberikan manfaat bagi orang lain disitulah kita telah memulai semangat berbagi. Ketika kamu berbagi kamu akan merasa bahwa kamu berarti bagi orang lain, bahwa kamu menggunakan panca indra kamu untuk peka dan ingin turut merasa apa yang orang lain rasakan. Kita memang bisa berwacana dari A sampai Z, kita juga bisa mengkritik dari segala sisi ,namun apa arti itu semua jika tidak diikuti dengan tindakan nyata.
Bersyukur, peduli dan empati point itulah yang menjadi tujuan dalam gerakan berbagi nasi ini,pada hakekatnya manusia terlahir sebagai makhluk sosial dan saling membutuhkan serta berakal untuk membuat sesuatu yang bermanfaat dan mengarah pada perubahan. Berbagi memang tidak mengenal usia baik tua maupun muda, apalagi kamu para pemuda yang mempunyai semangat dan energi yang lebih untuk berbagi kepada sesama, dan pastinya sayang sekali jika kamu sia-siakan. Gunakanlah masa muda mu dengan berbagai aksi yang positif agar di masa tuamu kelak kamu akan mempunyai cerita untuk anak cucumu bahwa ketika masa mudamu digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Dan pada akhirnya dari sini diharapkan akan muncul semangat-semangat baru yang diwujudkan dalam bentuk berbagi lainya karena sejatinya sebaik-sebaiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi sesama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar